Home / Berita / Daerah / Politik

Kamis, 10 September 2020 - 08:34 WIB

Pilkada 2020 Siantar Selain Melawan Kotak Kosong PASTI, Hadapi Sikap Apatis dan Skeptis Masyarakat, Siapa Pemenang?

234 Views
Terakhir Dibaca:5 Menit, 21 Detik

Kompas Nasional I Siantar

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 di Kota Pematangsiantar,  Pasangan Ir Asner Silalahi MT dan dr Susanti Dawayani Sp. A   (PASTI)  akan melawan  Kotak Kosong  jika tidak ada perubahan dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD). Pasalnya,  KPU telah  memperpanjang pendaftaran hingga Minggu (13/09/2020).

Sebelumnya bola panas Calon Tunggal melawan Kotak Kosong sudah bergulir sejak pendaftaran dibuka pada Jumat (04/09/2020), dan ditutup pada Minggu (06/09/2020). Dimana  hanya bakal pasangan calon (Bapaslon) Asner-Susanti atau PASTI yang mendaftar di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Pematangsiantar.

Terkait dengan itu, Bapaslon dengan slogan PASTI yang didukung secara aklamasi  8 partai pengusung yaitu, PDI-P, Golkar, Hanura, NasDem, Gerindra, Demokrat, PAN dan PKPI dengan akumulasi 30 kursi, PASTI harus meraih 51 persen suara dari sekitar 120 ribu pemilih.

Pada saat pendaftaran,  para pendukung dan simpatisan PASTI, terlihat dengan berbagai slogan dan atribut mewarnai pendaftaran Bapaslon Asner-Susanti.
Para pendukung dan simpatisan, melalui slogan dan atribut, pendukung menorehkannya dalam atribut Teman Asner Susanti atau disebut  (TAS). Demikian juga dengan atribut Jaringan Asner Susanti (JAS) Hijau. Sedangkan partai Hanura dengan selogan mengibarkan bendera yang bertuliskan  “From Zero to Hero” yang jadi sebuah reaksi spontan dari berbagai pendukung.

“Ini adalah mesin politik oligarki yang dibangun dengan  kekerabatan atau hubungan darah atau sistem  paternalistik. Ironisnya, semua dibangun dengan cara kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) dan dijalankan dengan prinsip transaksional  dengan modal  besar secara masif dan terorganisir, kata Robin Samosir Pengamat Politik jebolan Universitas Gajah Mada (UGM) kepada Kompasnaaional.com, pada Rabu (09/09/2020).

Terkait dengan fenomena ini,  Calon Tunggal melawan Kotak Kosong dan siapa pemenangnya?, tidak tertutup kemungkinan Kotak Kosong bisa menang melawan Calon Tunggal dengan catatan siapa Tokoh dibalik  Kotak Kosong sebagai penantang Calon Tunggal?, kata Robin dengan menyebut pada Pilkada 2018 di  Sulawesi
Kotak Kosong menang karena disokong Tokoh panutan masyarakat.

Hal itu disampaikan Robin Samosir sebagai Tokoh dan Pengamat Politik yang sudah mengecap Perjuangan Reformasi pada tahun 1998 yang saat itu sebagai Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial  dan Ilmu Politik (Fisopol) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogjakarta.

Menurutnya, eksistensi Calon Tunggal di Pilkada 2020 Kota Pematangsiantar adalah sebuah penghianatan politik dari para pimpinan partai politik yang mencederai roh dan jiwa demokrasi khususnya dalam reformasi demokrasi politik.

Baca Juga  Pegawai Pemkab Sergai Laporkan Dugaan Korupsi Massal Oknum Pejabat ke KPK

‘Demos atau Demokrasi adalah kekuasaan dari rakyat untuk rakyat. Namun, oleh elit partai politik atau ketua partai politik dengan oligarki kekuasaan dengan pilihan temporer atau nikmad sesaat,  mereka sama sekali tidak memberikan pilihan lain selain Kotak Kosong dan Calon Tunggal  kepada masyarakat Kota Pematangsiantar untuk bisa memilih pimpinannya.” kata Robin Samosir.

Kata Robin Samosir, akibatnya masyarakat Kota Pematangsiantar dengan pola pikir yang sebenarnya sudah maju, semakin terbelenggu dan  berubah menjadi pemikir yang apatis dan skeptis. Pasalnya, selama ini masyarakat sudah merasakan bahwa tidak ada perubahan yang berarti yang di nikmati masyarakat. Akibatnya, karena tidak ada pilihan selain Calon Tunggal pola pikir apatis dan skeptis bisa jadi ĺebih dominan,  jelas Robin Samosir dengan mengutip beberapa pernyataan masyarakat Kota Pematangsiantar yang mengatakan bahwa mereka tidak tahu siapa calon walikotanya.

“Saat ini justru beberapa masyarakat menunjukkan sikap apatis, skeptis, tidak mau tahu. Sehingga PASTI melawan Kota Kosong  merupakan kemunduran politik demokrasi di Kota Pematangsiantar,” jelas Robin Samosir.

Menurutnya, sikap skeptis dan apatis dari warga masyarakat Kota Pematangsiantar yang sudah lebih dominan dari pada sikap optimis. Yang ada hanya sikap suka atau tidak suka sebagai modal dasar masyarakat nantinya untuk datang ke TPS, ungkab Robin Samosit.

Dalam pandangannya, secara sosiologi dan pisikologis, memang PASTI bisa menaklukkan Kotak Kosong, tetapi dengan biaya yang sangat mahal dan Bapaslon Asner-Susanti sudah menguasai berbagai lapisan masyarakat Kota Pematangsiantar.

“Bapaslon Asner-Susanti harus mengeluarkan biaya ekstra yang sangat besar untuk meraih  51 persen suara dari  sekitar 120 puluh ribu pemilih yang diharapkan datang  ke TPS,” kata Robin Samosir.

Pandangan masyarakat saat ini, lanjut Robin Samosir, jika PASTI bisa mengumpulkan 8 partai politik sebagai pengusung,  berarti PASTI harus bisa mendatangkan 51 persen  suara dari sekitar 120 ribu pemilih tetap.

“Pertanyaannya, seberapa besar kekuatan modal yang dimiliki PASTI untuk mengangkut dan memfasilitasi 51 persen pemilik suara untuk datang ke TPS?”

Karena itu, Calon Tunggal bisa menang melawan Kotak Kosong tentu dengan catatan harus mengeluarkan ongkos politik yang sangat mahal. Pasalnya, masyarakat akan datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) cenderung dengan prinsip politik transaksional, kata Robin Samosir  yang sudah mengecap sakitnya berjuang untuk melawan calon tunggal yang selalu dihadapkan dengan calon tunggal di Era Reformasi 1998.

Baca Juga  Inilah 4 Kelompok yang Ingin Menjatuhkan Pemerintahan Jokowi, Di Antaranya yang Haus Kekuasaan

Dalam pandangan politiknya, calon tunggal melawan kotak kosong yang terjadi di 28 Kabupaten/Kota dan  tersebar di 15 Provinsi termasuk Kota Pematangsiantar,  adalah sebuah tragedi penghianatan kepada roh dan jiwa reformasi Demokrasi.

Tetapi faktanya, Badan Pengawas Pemilu ( Bawaslu) telah mencatat, hingga pendaftaran peserta pilkada ditutup pada Minggu (06/09/2020) pukul 24.00, ada 28 kabupaten/kota yang terdapat bakal pasangan calon kepala daerah tunggal.

Sebagai informasi berdasarkan data Bawaslu, dari 15 provinsi, Jawa Tengah menjadi provinsi dengan jumlah bakal paslon tunggal terbanyak dengan 6 bapaslon yang tersebar di 6 kabupaten/kota.

Dari 28 daerah yang terdapat bapaslon tunggal, 9 bakal paslon maju melalui jalur perseorangan (non partai politik) tetapi dinyatakan tidak memenuhi syarat.

Ke-9 bapaslon tersebut mendaftar sebagai bakal calon kepala daerah di Ngawi, Balikpapan, Kediri, Kebumen, Raja Ampat, Pematang Siantar, Kota Semarang, Boyolali, dan Kutai Kartanegara.

Khusus untuk calon perseorangan Kota Pematangsiantar, kenapa tidak lolos verifikasi?. Jawabnya karena sikap apatis dan skeptis masyarakat Kota Pematangsiantar yang sudah cenderung transaksional. Dimana pada saat verifikasi di KPU, masyarakat yang disebut pendukung  calon perseorangan non partai itu, justru tidak ada yang datang hanya karena “ongkos” politik yang mahal untuk menghadirkan masyarakat di KPU, kata Robin Samosir.

Berikut 28 kabupaten/kota penyelenggara Pilkada 2020 yang terdapat bakal paslon tunggal:

Jawa Timur:
1. Ngawi
2. Kediri
Jawa Tengah:
3. Kebumen
4. Wonosobo
5. Sragen
6. Boyolali
7. Grobogan
8. Kota Semarang
Kepulauan Riau
9. Bintan
Jambi
10. Sungai Penuh
Bali
11. Badung
Sulawesi Selatan
12. Gowa
13. Soppeng
Papua
14. Manokwari Selatan
15. Raja Ampat
Nusa Tenggara Barat
16. Sumbawa Barat
Sumatera Barat
17. Pasaman
Sumatera Utara
18. Pematangsiantar
19. Serdang Bedagai
20. Gunungsitoli
21. Humbang Hasundutan
Sulawesi Barat
22. Mamuju Tengah
Bengkulu
23. Hulu Utara
Sumatera Selatan
24. Ogan Komering Ulu
25. Ogan Komering Ulu Selatan
Kalimantan Timur
26. Balikpapan
27. Kutai Kertanegara
Papua Barat
28. Pegunungan Arfak

Setelah pendaftaran ditutup, tahapan Pilkada akan dilanjutkan dengan penetapan paslon pada 23 September. Sementara itu, hari pemungutan suara Pilkada rencananya akan digelar serentak pada 9 Desember.

Adapun Pilkada 2020 digelar di 270 wilayah di Indonesia, meliputi 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota.

Editor: Nilson Pakpahan

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Politik

KH Ma’ruf Amin Sengaja Membiarkan “Orang-Orang” JK Masih Berada di Istana Wapres?

Berita

Dijadwalkan September, Samosir Terbuka untuk Wisman

Berita

AS Janjikan Rp 65 Miliar Buat Kepala Panglima Abu Sayyaf

Berita

Satukan Semangat Lawan Covid-19

Daerah

Petani Serdangbegadai Tanam Padi di Lahan Kompensasi Tol Seluas 20 Hektare

Berita

Idham Azis Kirim Lulusan Taruna Akpol ke Papua: Biar Meriang Orang Tuanya

Berita

Jojo Sumbang Emas ke-23 Untuk Indonesia

Berita

Gus Irawan Pasaribu Apresiasi Program Asner-Susanti