Home / Berita

Senin, 23 November 2020 - 12:17 WIB

Eksklusif, Wawancara Irjen Napoleon Bonaparte: (Saya Ditahan) untuk Menutupi Suatu Perbuatan Pidana (Lain)

183 Views
Terakhir Dibaca:3 Menit, 12 Detik

tersangka dan barang bukti untuk tersangka Irjen Pol Napoleon Bonaparte, Brigjen Pol Prasetijo Utomo dan pengusaha Tommy Sumardi ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan untuk segera disidangkan.

Saya pun berupaya menembus akses menemui mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri itu di ruang tahanan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri untuk menagih janjinya.

Tentu tidak mudah. Syukurlah, saya berhasil menemuinya. Ia pernah sesumbar ingin mengungkap keganjilan di balik kasusnya.

Saya menghormati instruksi Kapolri tahun 2016 yang tidak mengizinkan wartawan mewawancarai tahanan di ruang tahanan. Instruksi tersebut dikeluarkan Kapolri saat itu Jenderal Polisi Badrodin Haiti. Instruksi ini dikuatkan dengan Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri.

Namun, dalam menjalankan kerja-kerja jurnalistik ini saya berpegang pada UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers yang memberi perlindungan bagi wartawan. Undang-undang tersebut menyatakan tentang kemerdekaan pers untuk mencari, memperoleh, menyebarluaskan gagasan dan informasi dengan tetap menghormati norma agama, susila, dan asas praduga tak bersalah.

Saya menemuinya di dua hari yang berbeda. Hari pertama saya melihat ruang tahanan. Hari selanjutnya, saya melakukan wawancara panjang di ruang berbeda tapi masih dalam kompleks yang sama.

Baju seragam kebesaran PDL (Pakaian Dinas Lapangan) dengan bintang 2 di bagian kerah baju tergantung di ruang tahanan itu. Saya melihat pula dua buah sepatu lars yang tersimpan rapi di dalam rak di ruang tahanan yang berukuran sekitar 3 kali 5 meter itu dengan ventilasi ruangan lorong yang berada di lantai bawah tanah.

Baca Juga  Para Pelaku Wisata di Samosir Menerima Bantuan Dari Kemenparekraf

“Tak pernah terpikir, seorang Jenderal dengan dua bintang harus ditahan di tempat mana ia justru menjebloskan tahanan lain atas berbagai kasus?” tanya saya.

“Iya,” Irjen Napoleon menjawab lirih dengan sedikit senyum.Sejak saya masuk Akademi (Kepolisian),” ia melanjutkan, “selalu ada istilah polisi berdiri di atas dua kaki. Satu di atas kuburan, satu di atas Penjara.”

Saya membuka wawancara panjang eksklusif ini dengan pertanyaan:
“Jenderal Napoleon menerima uang Rp 6 miliar (dari Tommy Sumardi)?”

“Itu tuduhan rekayasa yang dibuat oleh Tommy Sumardi. Tugas dialah yang harus membuktikan apa itu benar. Mari kita lihat di pengadilan, apa buktinya. Kita nanti bisa lihat keganjilan – keganjilan yang dia buat, termasuk fakta – fakta yang akan terungkap.
Apa keganjilan itu?

Siapa sih orang yang mau mengorbankan dirinya sendiri untuk masuk penjara. Hanya untuk menjatuhkan seorang Napoleon. Padahal dia tidak punya hubungan, (tidak) kenal pribadi dengan saya. Dari situ saja itu sudah tercium. Ia bukan orang yang dirugikan. Pasti kan ada dalangnya. Ada kepentingan yang lebih besar daripada saya.

Apa keganjilan itu?
Anda merasa dikorbankan?

Hmmm (sempat berpikir beberapa detik), .. Iya.

Apa untungnya mengorbankan Anda. Saya harus tanyakan untuk kepentingan seperti yang sekarang banyak diperbincangkan, bursa Kapolri misalnya, ada jauh dari situ. Anda bukan orang yang diperhitungkan. Kapolda saja Anda tidak pernah menempati kursi untuk daerah tipe A, misalnya.

Baca Juga  Kuasa Hukum Ruslan Buton: Kalau Besok Kalah, Praperadilan Lagi

Kalau Anda dikorbankan apa untungnya, logikanya enggak masuk Jenderal?
Saya tidak pernah bilang ada yang diuntungkan. Itu publik mungkin lebih tahu. Pertanyaan bukan yang diuntungkan atau tidak diuntungkan. Tapi ada keganjilan. Tapi semua nanti akan terungkap di pengadilan.

Apakah ini semua terkait bursa calon Kapolri yang baru, menurut Anda?

Saya belum bisa mengatakan hal itu.

Adakah peluang ke arah sana?

Mungkin saja.

Anda seorang Polisi. Anda lama di bidang reserse. Anda tentu punya naluri yang bisa mengatakan ada dugaan, patut diduga, ada ke arah sana?

Mungkin bisa lebih dari itu!
Apa?

Untuk menutupi suatu perbuatan pidana.

Anda katakan dikorbankan dan Anda katakan untuk menutupi pidana yang lain? Anda mau mengatakan ini dilakukan oleh pejabat Polri, jenderal-jenderal lain?

Mungkin saja.

Nanti pengadilan yang akan menjawabnya. Saya ditempatkan di sini, bersama dengan penjahat narkoba, koruptor, bahkan bersama dengan orang yang saya tangkap bulan Juni lalu di Serbia, Maria Pauline Lumowa. Jeruji di sini tidak akan memakan badan dan mental saya.

Saya cukupkan cuplikan wawancara saya sampai di sini. Saksikan tayangan lengkapnya di Kompas TV, Senin, 23 November 2020, pukul 20.00 wib dalam program AIMAN.

Saya Aiman Witjaksono…
Salam! (K/Red)

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Peringati HDI, Walikota Siantar Minta Semua Peduli Terhadap Penyandang Disabilitas

Berita

4 PAKET PEKERJAAN PENINGKATAN JALAN POROS DISNAKERTRANS, APBDP YANG SUDAH DILELANG FISIKNYA NIHIL.

Berita

Bupati Samosir Audiensi Dengan Direktur Sanitasi Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR

Berita

Angka Konfirmasi Covid- 19 Tembus Seratus Ribuan

Berita

Dalam Uji Coba, Warga Samosir Tetap Waspada dan Terjaga

Berita

Lions Clubs Golden Estate Membagikan Sembako Idul Fitri

Berita

Giliran Koran Tempo dan Indo Pos Berhenti Terbit

Berita

Pangdam XII/Tpr Ikuti Upacara HUT TNI Ke 75 Secara Virtual Bersama Forkopimda Kalbar