Gadis Setengah Telanjang Tergolek Diduga Korban Kekerasan Seksual 12 Pemuda-KompasNasional

KompasNasional.com

PEMALANG – Pasangan suami istri, Wardi (53) dan Rasumi (55), warga Desa Tegalsari Barat Kecamatan Ampelgading, seketika lemas setelah mendengar kabar putri ketiganya Amelia (18) sudah terbujur kaku di peti pendingin di kamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah dr Ashari Kabupaten Pemalang Jawa Tengah.

Penyebab kematian Amelia diduga menjadi korban kekerasan seksual dan pembunuhan yang dilakukan oleh 12 pemuda.

Berdasarkan informasi dari sejumlah wargan, kondisi korban saat ditemukan pertama kali oleh warga pada hari Jumat (20/5/2016) pagi sekitar pukul 06.00 di tepi sungai Kebumen, Desa Pesurungan, Kecamatan Taman, Pemalang. Pada bagian kepala mulai dari leher belakang, kanan, dan dada mengalami luka-luka lebam dan mengeluarkan darah.

Sedangkan, kondisi jenazah saat ditemukan setengah telanjang. Pakaian yang melekat di tubuh korban hanya kaos oblong, bra dan celana kain yang kondisinya sudah rusak. Sedangkan celana dalam, HP dan jam tangannya hilang.

Menurut keterangan ayah korban, Amelia terakhir kali pergi dari rumah sejak hari Rabu (18/5) sekitar pukul 19.00 malam. Saat itu, ia pergi pamit untuk membeli pulsa yang lokasinya tidak jauh dari kediamanya.

“Malam itu, anak saya habis selesai makan sore minta uang sama ibunya untuk beli pulsa. Setelah makan ibunya kasih uang Rp 7 ribu. Kemudian Amel pamit keluar rumah dengan jalan kaki mau beli pulsa,” kata Wardi saat ditemui di kediamannya, Minggu (22/5/2016).

Kedua orangtuanya pun tidak menaruh curiga kepada Amelia. Namun, Wardi sempat curiga saat Rabu malam itu sudah menunjukkan pukul 23.30 putrinya tidak kunjung pulang ke rumah. Padahal, selama ini Amelia sangat jarang sekali keluar dari rumah sampai larut malam.

“Saya sempat curiga kok Rabu malam itu sampai dini hari nggak pulang-pulang ke rumah. Pergi kemana anak saya, tapi saat itu saya masih berpikir positif dan menduga anaknya maen ke rumah saudaranya dan menginap disana,” ungkapnya.

Keesokan harinya, Wardi mencari keberadaan Amelia dengan mendatangi keluarga dan kerabatnya di Pemalang. Bahkan, sejumlah teman Amelia juga sempat ditanya. Akan tetapi tidak ada yang mengetahui keberadaan putrinya tersebut.

“Sehari setelahnya, saya coba cari kesana kemari, tanya ke saudara dan teman-temanya. Tapi tidak ketemu. Saya telepon no hpnya juga sudah tidak aktif. Karena capek saya akhirnya pulang ke rumah istirahat dan lanjut pencarian pada keesokan harinya,” katanya.

Di saat pencarian hari kedua, pada hari Jumat (20/5). Sekitar pukul 17.00 sore, ia mendapatkan informasi dari kerabat kepala Dusun Tegalsari jika anaknya sudah meninggal dunia dan jasadnya sudah berada di RSUD dr Ashari. Padahal, dihari yang sama kedua orang tuanya mau melaporkan kehilangan anaknya ke pihak kepolisian.

“Awalnya saya nggak percaya, tapi setelah saya cek kesana ternyata memang benar jenazah itu memang puteri saya,” katanya.

Saat melakukan pengecekan kondisi tubuh Amelia, Wardi terkejut dengan luka-luka tubuh di bagian kepala termasuk pipi, leher kanan, belakang, kiri dan badanya mengalami luka lebam dan bewarna kehitam-hitaman seperti bekas dipukul dengan benda tumpul.

“Saya heran kenapa anak saya bisa jadi seperti ini, info awal saya ini dari warga sini. Apa salah anak saya, tujuannya kenapa sampai tega bunuh anak saya,” keluh pria yang setiap hari bekerja sebagai kuli bangunan ini.

Bahkan, saat mengambil jenazah Amelia di RSUD dr Ashari. Ia ditemani Kepala Desa dan Kepala Dusun setempat untuk membantu membawa jenazah ke rumah duka.

“Sebelum membawa jenazah ke rumah, saya sudah tanya ke pihak RS apakah jasad anak saya sudah boleh dibawa pulang. Kalau memang sudah diperiksa saya bawa pulang, tapi saat itu pihak RS tidak memberikan jawaban apapun. Hanya saja Kepala Desa yang matur ke saya kalau urusan jenazah sudah selesai dan suci, sehingga bisa dibawa pulang,” kata dia.

Usai mengambil jenazah Amelia, kedua orang tua korban diminta untuk membayar biaya tindakan pelayanan jenazah dan biaya tindakan pelayanan ambulan.

“Waktu ngambil jenazah anak saya tidak ada dari pihak kepolisian disana. Oleh pihak RSUD saya diminta membayar uang Rp 196 ribu untuk bayar ambulan dan Rp 45 ribu untuk perawatan jenazah,” akunya.

Selama proses penjemputan jenazah anaknya di RSUD dr Ashari. Pihak keluarga belum menerima informasi sama sekali terkait penyebab ataupun keterangan dari kepolian setempat.

“Memang kalau masalah meninggal dunia itu sudah takdir dari allah SWT. Karena manusia tidak dapat menghidupkian manusia. Tapi memang belum ada keterangan apapun dari kepolisian terkait penyebab kematian anak saya ini. Sekarang jenazah anak saya sudah dimakamkan Sabtu (21/5) sore kemarin,” paparnya.

Meski demikian, keluarga meminta kepada para pelaku agar dihukum seberat-beratnya sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Sehingga keadilan dapat ditegaskan dan mendapat hukuman yang setimpal.

“Meskipun saya sudah ikhlas, tapi saya tetap tidak terima dan ingin tau siapa orang yang tega membuat anaknya sampai meninggal dunia. Alesanya apa, punya salah apa, dan maksutnya apa sampai dibuat meninggal dunia,” ungkapnya.

Amelia merupakan anak ketiga dari tiga saudara yang semuanya perempuan yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Ia setiap hari bekerja serabutan sebagai pembantu rumah tangga dari satu rumah ke rumah lainya.

Wardi mengakui, tidak ada firasat apapun terkait kematian puteri keiganya Amelia. Tidak ada pertanda apapun, hanya saja pada Hari Kamis (18/3) malam sekitar pukul 20.00. Disaat makan satu gigi kanan atasnya tiba-tiba copot. Namun, saat itu Wardi tidak berpikir jika itu pertanda kematian putrinya itu.

“Memang nggak ada firasat apapun, ngimpi Amelia juga tidak. Ya cuman satu gigi atas kanan saya copot satu. Ya mungkin itu pertanda kalau orang jawa bilang,” paparnya.(kn/bp)