Home / Berita / Headline News / Internasional / Kesehatan / Nasional / Opini

Selasa, 17 Maret 2020 - 08:51 WIB

Sejarah Wabah Besar yang Melanda Dunia Setiap 100 Tahun (1720, 1820, 1920, 2020)

95 Views
Terakhir Dibaca:4 Menit, 12 Detik

Entah sebuah kebetulan atau tidak, dalam catatan sejarah setiap 100 tahun ada wabah atau pandemi luar biasa besar yang melanda dunia. Pandemi tersebut adalah Wabah Besar Marseille (1720), Wabah Kolera (1820), Flu Spanyol (1920), dan terakhir adalah Virus Corona (2020). Apakah ini hanya sebuah kebetulan atau kah ada sesuatu di baliknya?

Sejarah benar-benar berulang, kali ini adalah pandemi atau wabah mengerikan yang membunuh banyak orang di berbagai tempat di dunia. Di mulai dari Wabah Marseille di Perancis hingga yang paling terbaru adalah Virus Corona yang melanda Wuhan, China. Menariknya, sejumlah teori mengatakan bahwa ada kemungkinan virus-virus tersebut sengaja disebarkan oleh suatu organisasi? 

Wabah Marseille (1720)
Wabah Marseille, seperti namanya terjadi di Marseille, Perancis pada tahun 1720. Wabah ini menewaskan total 100.000 jiwa, sementara 50.000 korban lainnya tewas selama 2 tahun berikutnya dan 50.000 korban lainnya lagi berasal dari utara provinsi dan juga kota-kota di sekitarnya. Tentu saja ini merupakan jumlah korban jiwa yang sangat besar pada masa itu, di mana populasi manusia khususnya di Eropa masih belum begitu banyak.
Wabah Marseille ini merupakan wabah yang terjadi setelah pandemi dahsyat terakhir melanda pada abad ke 14 yang dikenal pula dengan Black Death.



Pandemi ini dimulai ketika kapal dagang bernama Grand-Saint-Antoine berlabuh di pelabuhan Marseille dari Levant. Kapal yang berangkat dari Sidon di Lebanon, setelah sebelumnya mengunjungi Smyrna, Tripoli, dan Siprus ini rupanya membawa Yersinia pestis. Yersinia pestis adalah organisme anaerob fakultatif yang menginfeksi manusia melalui kutu tikus Oriental.

Korban pertama dari wabah ini diduga adalah seorang penumpang Turki yang terinfeksi dan tewas di kapal Grand-Saint-Antoine diikuti dengan meninggalkan sejumlah awak kapal yang lainnya.
Sebenarnya ketika sampai di pelabuhan Marseille, para penumpang kapal segera dikarantina oleh otoritas pelabuhan. Tetapi ternyata beberapa hari kemudian penyakit itu merebak hingga ke kota. Rumah sakit dipenuhi dengan pasien yang tertular. Dokter dan perawat kewalahan dengan semakin meningkatnya jumlah orang yang tertular. Ribuan mayat berserakan di jalan-jalan. Kepanikan segera melanda seluruh kota. 

Baca Juga  Survei Indikator: Jokowi Lebih Religius Dibanding Prabowo

Salah satu upaya yang dilakukan untuk menghentikan penyebaran yaitu dengan membangun tembok pemisah atau mur de la peste. Tembok ini terbuat dari batu kering setinggi 2 meter dan tebal 70 cm. Sisa-sisa dari tembok ini masih dapat ditemukan sampai sekarang.


Wabah Kolera (1820)

Pandemi atau wabah ini dikenal juga dengan pandemi kolera Asiatik atau kolera Asiatik pertama. Awal mula kemunculannya dimulai dekat kota Calcutta lalu kemudian menyebar ke seluruh Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika Timur, hingga pantai Mediterania.

Ratusan ribu orang tewas akibat pandemi ini termasuk banyak tentara Inggris yang kemudian menarik perhatian Eropa. Pandemi ini menyebar hampir di seluruh negara-negara Asia termasuk Indonesia. Pada tahun 1820 tercatat lebih dari 100.000 kematian di Asia disebabkan oleh bakteri ini.

Pandemik ini dimulai dari orang-orang yang minum air yang terkontaminasi bakteri ini. Asal dari endemik ini adalah dari Sungai Gangga. Pada saat festival, para peziarah tertular penyakit di sana dan membawanya ke tempat-tempat lainnya di India saat mereka kembali. Beberapa ahli epidemiologi dan sejarawan medis telah menyarankan bahwa penyebarannya secara global melalui ziarah Hindu, Kumbh Mela, di hulu Sungai Gangga. Wabah kolera sebelumnya telah terjadi di dekat Purnia di Bihar.

Total kematian akibat epidemi ini di seluruh dunia masih belum dapat dipastikan dengan jelas. Namun beberapa ahli memperkirakan bahwa untuk di Bangkok, Thailand kemungkinan terjadi 30.000 kematian akibat penyakit ini. Sementara itu di Semarang, ada sebanyak 1.225 orang meninggal dunia dalam 11 hari pada bulan April 1821.

Baca Juga  iPhone Anda bisa diretas?

Flu Spanyol (1920)

Flu Sapanyol adalah virus flu H1N1 yang telah mengalami mutasi genetik sehingga jauh lebih berbahaya daripada virus normal.

Flu Spanyol menginfeksi lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia, termasuk orang-orang di pulau-pulau Pasifik yang terpencil hingga sampai di Kutub Utara, menjadikannya sebagai salah satu wabah yang paling mematikan dalam sejarah.

Beberapa analisis telah menunjukkan virus ini sangat mematikan karena memicu badai sitokin yang merusak sistem kekebalan tubuh. Ditambah lagi dengan kondisi malnutrisi, kamp medis, dan juga rumah sakit yang penuh sesak serta kebersihan yang buruk mendorong bakteri ini semakin cepat menyebar.

Virus Corona (2020)

Virus ini pertama kali diidentifikasi di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei China. Virus ini telah menunjukkan bukti penularan dari manusia ke manusia dan tingkat penularannya tampaknya meningkat pada pertengahan Januari 2020.

Meskipun ada upaya dari pemerintah China dan lembaga lain untuk mengkarantina seluruh kota, tampaknya virus tersebut telah berhasil menyebar ke luar perbatasan Cina, dengan sejumlah penduduk negara lain mulai dari Eropa hingga Amerika didapati orang-orang yang suspect virus ini. Gejala orang yang terindikasi virus Corona antara lain yaitu demam, batuk, kesulitan bernafas yang bisa berakibat fatal hingga kematian.

Kematian pertama yang dikonfirmasi disebabkan dari infeksi virus corona terjadi pada tanggal 9 Januari 2020 dan sejak itu sudah ada 214 kematian yang telah dikonfirmasi. Sementara itu penularan virus di luar China yang pertama terjadi di negara Vietnam dari seorang ayah ke putranya. Sementara itu, penularan lokal pertama yang tidak melibatkan keluarga yaitu terjadi di Bavaria, Jerman. Pada 22 Januari 2020 seorang pria Bavaria tertular penyakit ini dari seorang rekan bisnis dari China pada sebuah pertemuan di Jerman.(merindingcom/aw)

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Hati-hati, Barang Bermerek Ini Paling Banyak Dipalsukan

Berita

Rahasia Diet Bisa Berhasil Kuncinya Jangan Kurang Tidur

Nasional

PDIP Sebut Ahok Lebih Parah dari Sopir Bajaj, Kok Bisa?

Berita

Carrageenan: Sustainability From Farm to Table

Berita

Gubernur Kalteng Turun Tangan Setelah 2 Situs Budaya yang diduga diRusak,

Kriminal

Plt Bupati Sebut Perselingkuhan Marak di Rohul

Asahan

Proposal Polres Asahan Dipertanyakan

Internasional

Pelaku Penembakan Imam Masjid New York Ditangkap