Home / Berita / Opini

Kamis, 18 Juli 2019 - 08:33 WIB

TERJAJAH LAGI ATAU BANGKIT MELAWAN

28 Views
Terakhir Dibaca:2 Menit, 50 Detik

Mendorong kebangkitan budaya suku bangsa Nusantara melalui masyarakat adar dam kraton bukan untuk menghidupkan budaya feodal yang pernah ada di negeri kita. Karena budaya feodal dalam bentuk apaupun tidak akan mendapat tempat dalam era melineal yang menuntut cara kerja dalam bidang apapun agar bisa lebih profesional.

Adapun budaya feodal yang dimaksud dalam tulisan ini adalah model atau cara kerja yang lebih mengedepan rasa dan sikapnl dari kebangsawanan, bukan betdasarkan kempuan, keahlian dan profesionalitas seera kapabelitas, bukan berdasarkan pangkat, jabatan atau anggapan dari senioritar mrnurut umur. Padahal, untuk wilayah jelajah dan jam terbang misalnya, mereka yang terbilang.muda bisa saja lebih unggul, lebih ahli dan lebih mumpuni dari yang sudah bongkotan dari bilangan.umur semata, tapi sangat mungkin nol besar dari pengembaraan intektual dan ragam macam pernah hidup yang sudau dilaluinya.

Jadi budaya feodal yang tidak bisa diterima oleh generasi jaman now misalnya seperti sikap pongah yang merasa tahu tentang banyak hal hanya atas dasar kepangkatan, jabatan atau trah dalam yang lebih tinggi dalam tata urutan keluarga. Karena sikap untuk mengklaim bahwa dirinya memiliki hak dan wewenang yang melampaui wilayah pekerjaan atau tugas umumnya, seakan-akan dengan sendirinya merupakan bagian bagian dari otoritas yang tidak terpisah. Padahal, gugus tugas dan hak dari otoritas yang domilikinya tidaklah begi adanya. Sebab untuk bidang pekerjaan seperti ini misalnya sangat diperlukan sikap dan kemampuan serta keahlian yang profesional. Oleh sebab banyaknya kecenderungan yang salah kaprah dalam melakukan suatu pekerjaan seperti pada bidang dunia usaha, tidak heran banyak yang jeblok, akibat memaksakan kedudukan serta posisi yang tidak sesuai karena mekanisme dari pemilihan atau penunjukan yang bersangkutan tidak berdasar keahlian, kemampuan serta kapabelitas orang yang menjadi pemimpin dari lembaga, instanai atau perusahaan itu hanya karena keningratan atau pun klaim terhadap dirinya sebagai bangsawan.

Baca Juga  11 Kepsek di Langkat Terjaring OTT

Padahal darah ningrat maupun.kebamgsawanan seorang tidak bisa begitu saja dijadikam jaminan bahwa yang bersangkutan dapat pasti memiliki kemampuan kerja yang semalin mempersyaratkan untuk profesional dan smart. Sedangkan sikap feodal sering memaksakan kehendak, entah sebagai penekan atau menjadi penyedot energi yang tidak pernah dimiliki atau tidak pernah dipersiapkan oleh orang untuk dia jadikan semacam pengabdian atau persembahan.

Yang acap tidal sedap itu dalam tata pergaulan warga dari masyarakat feodal adalah, acap terkesan dalam interaksi sosial kita yang awan sebagai warga masyarakat yang tidak ada kaitan atau hubungan kekerabatan dengan mereka yang berasal dari bilik kraton itu hendak memaksakan budaya, tradisi serta adat istiadat atau bahkan kehendak kepada pihak lain yang tidak.memiliki keterikan maupun keharusan mengabdi dan mempersembahkan sesuatu –pekerjaan yang dianggap jadi gratisan — sebagai wujud pengabdian.

Baca Juga  Ratusan Orang Terjebak dalam Mall, Hotel yang Ambruk di Kota Palu

Demikian dengan sikap dan perlakuan lain yang fominan dilakukan secara sadar bahwa semua itu disandarkan sepenuhnya pada pola dan model interelasi sosial yang feodal. Karenanya, upaya semacam yang pernah dilakukan Haji Wahyu Sulaiman Rendra yang mengupas cara “Mempertimbangkan Tradisi” dalam satu buku sederhana, agaknya dapat dijadikan jejak maupun model guna mempertimbangkan budaya feodal yang tidak perlu dan mungkin juga sudah tidak relevan untuk digunakan pada6 jaman now.

Jadi upaya untuk membangun budaya masyarakat adat, budaya masyarakat tradisi dan budaya masyarakat keraton itu sekaligus memilah milih diantaranya yang masih relevan dan berguna bagi generasi melineal kita sekarang yang ingin bangkit menghadapi ragam macam hambatan serta tantangan, setidaknya dalam persaingan global, pasar bebas dan peramg asimetris yang tengah melantak pertahanan dan ketahanan budaya kita yang terkesan semakin rapuh dan gamang.

Itulah yang meresahkan juga menggugah patriotis kebangsaan seluruh warga suku bangsa Nusantara sekarang.

Terjajah lagi untuk selamanya, atau bangkit melawan !

Jakarta, 12 Juli 2019

Jacob Ereste

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Opini

Selingkuh Penyebab Nomor Dua Perceraian, Apa Nomor Satunya

Berita

Mantan Presiden ISIS Indonesia di Cianjur Jamin Seluruh Biaya Jihad Rohingya

Berita

Khairul Mahalli Masih Membandel Adakan Kegiatan Atasnama GPEI

Berita

Tokoh Dayak Kalsel Ramon Dipercaya jadi Ketua DPW DJM 1 Kali Lagi untuk Memenangkan Jokowi

Berita

Shinta Bachir Dilamar Anggota DPRD

Berita

Pencuri Papan Bunga Kena Batunya

Berita

Pemkab Asahan Dukung Peningkatan Profesionalitas Wartawan

Berita

Muspika Medan Marelan Razia Kafe Maksiat di Bantaran Sungai Deli